Sabtu, 13 Desember 2014

BUDIDAYA CACING TANAH



1. MANFAAT
Dalam bidang pertanian, cacing menghancurkan bahan organik sehingga memperbaiki aerasi dan struktur tanah. Akibatnya lahan menjadi subur dan penyerapan nutrisi oleh tanaman menjadi baik. Keberadaan cacing tanah akan meningkatkan populasi mikroba yang menguntungkan tanaman. Selain itu juga cacing tanah dapat digunakan sebagai:
  1. Bahan Pakan Ternak
    Berkat kandungan protein, lemak dan mineralnya yang tinggi, cacing tanah dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti unggas, ikan, udang dan kodok.
  2. Bahan Baku Obat dan bahan ramuan untuk penyembuhan penyakit.
    Secara tradisional cacing tanah dipercaya dapat meredakan demam, menurunkan tekanan darah, menyembuhkan bronchitis, reumatik sendi, sakit gigi dan tipus.
  3. Bahan Baku Kosmetik
    Cacing dapat diolah untuk digunakan sebagai pelembab kulit dan bahan baku pembuatan lipstik.
  4. Makanan Manusia
    Cacing merupakan sumber protein yang berpotensi untuk dimasukkan sebagai bahan makanan manusia seperti halnya daging sapi atau Ayam.
2. PERSYARATAN LOKASI
  1. Tanah sebagai media hidup cacing harus mengandung bahan organik dalam jumlah yang besar.
  2. Bahan-bahan organik tanah dapat berasal dari serasah (daun yang gugur), kotoran ternak atau tanaman dan hewan yang mati. Cacing tanah menyukai bahan-bahan yang mudah membusuk karena lebih mudah dicerna oleh tubuhnya.
  3. Untuk pertumbuhan yang baik, cacing tanah memerlukan tanah yang sedikit asam sampai netral atau ph sekitar 6-7,2. Dengan kondisi ini, bakteri dalam tubuh cacing tanah dapat bekerja optimal untuk mengadakan pembusukan atau fermentasi.
  4. Kelembaban yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan cacing tanah adalah antara 15-30 %.
  5. Suhu yang diperlukan untuk pertumbuhan cacing tanah dan penetasan kokon adalah sekitar 15–25 derajat C atau suam-suam kuku. Suhu yang lebih tinggi dari 25 derajat C masih baik asal ada naungan yang cukup dan kelembaban optimal.
  6. Lokasi pemeliharaan cacing tanah diusahakan agar mudah penanganan dan pengawasannya serta tidak terkena sinar matahari secara langsung, misalnya di bawah pohon rindang, di tepi rumah atau di ruangan khusus (permanen) yang atapnya terbuat dari bahan-bahan yang tidak meneruskan sinar dan tidak menyimpan panas.
3. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
  1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
    Pembuatan kandang sebaiknya menggunakan bahan-bahan yang murah dan mudah didapat seperti bambu, rumbia, papan bekas, ijuk dan genteng tanah liat. Salah satu contoh kandang permanen untuk peternakan skala besar adalah yang berukuran 1,5 x 18 m dengan tinggi 0,45 m. Didalamnya dibuat rak-rak bertingkat sebagai tempat wadah-wadah pemeliharaan. Bangunan kandang dapat pula tanpa dinding (bangunan terbuka). Model-model sistem budidaya, antara lain rak berbaki, kotak bertumpuk, pancing bertingkat atau pancing berjajar..
  2. Pembibitan
    Persiapan yang diperlukan dalam pembudidayaan cacing tanah adalah meramu media tumbuh, menyediakan bibit unggul, mempersiapkan kandang cacing dan kandang pelindung.
    1. Pemilihan Bibit Calon Induk
      Sebaiknya dalam beternak cacing tanah secara komersial digunakan bibit yang sudah ada karena diperlukan dalam jumlah yang besar. Namun bila akan dimulai dari skala kecil dapat pula dipakai bibit cacing tanah dari alam, yaitu dari tumpukan sampah yang membusuk atau dari tempat pembuangan kotoran hewan.
    2. Pemeliharaan Bibit Calon Induk
      Pemeliharaan dapat dibagi menjadi beberapa cara:
      1. pemeliharaan cacing tanah sebanyak-banyaknya sesuai tempat yang digunakan. Cacing tanah dapat dipilih yang muda atau dewasa. Jika sarang berukuran tinggi sekitar 0,3 m, panjang 2,5 m dan lebar kurang lebih 1 m, dapat ditampung sekitar 10.000 ekor cacing tanah dewasa.
      2. pemeliharaan dimulai dengan jumlah kecil. Jika jumlahnya telah bertambah, sebagian cacing tanah dipindahkan ke bak lain.
      3. pemeliharaan kombinasi cara a dan b.
      4. pemeliharaan khusus kokon sampai anak, setelah dewasa di pindah ke bak lain.
      5. Pemeliharaan khusus cacing dewasa sebagai bibit.
    3. Sistem Pemuliabiakan
      Apabila media pemeliharaan telah siap dan bibit cacing tanah sudah ada, maka penanaman dapat segera dilaksanakan dalam wadah pemeliharaan. Bibit cacing tanah yang ada tidaklah sekaligus dimasukan ke dalam media, tetapi harus dicoba sedikit demi sedikit. Beberapa bibit cacing tanah diletakan di atas media, kemudian diamati apakah bibit cacing itu masuk ke dalam media atau tidak. Jika terlihat masuk, baru bibit cacing yang lain dimasukkan. Setiap 3 jam sekali diamati, mungkin ada yang berkeliaran di atas media atau ada yang meninggalkan media (wadah). Apabila dalam waktu 12 jam tidak ada yang meninggalkan wadah berarti cacing tanah itu betah dan media sudah cocok. Sebaliknya bila media tidak cocok, cacing akan berkeliaran di permukaan media. Untuk mengatasinya, media harus segera diganti dengan yang baru. Perbaikan dapat dilakukan dengan cara disiram dengan air, kemudian diperas hingga air perasannya terlihat berwarna bening (tidak berwarna hitam atau cokelat tua).
    4. Reproduksi, Perkawinan
      Cacing tanah termasuk hewan hermaprodit, yaitu memiliki alat kelamin jantan dan betina dalam satu tubuh. Namun demikian, untuk pembuahan, tidak dapat dilakukannya sendiri. Dari perkawinan sepasang cacing tanah, masing-masing akan dihasilkan satu kokon yang berisi telur-telur. Kokon berbentuk lonjong dan berukuran sekitar 1/3 besar kepala korek api. Kokon ini diletakkan di tempat yang lembab. Dalam waktu 14-21 hari kokon akan menetas. Setiap kokon akan menghasilkan 2-20 ekor, rata-rata 4 ekor. Diperkirakan 100 ekor cacing dapat menghasilkan 100.000 cacing dalam waktu 1 tahun. Cacing tanah mulai dewasa setelah berumur 2-3 bulan yang ditandai dengan adanya gelang (klitelum) pada tubuh bagian depan. Selama 7-10 hari setelah perkawinan cacing dewasa akan dihasilkan 1 kokon.
  3. Pemeliharaan
    1. Pemberian Pakan
      Cacing tanah diberi pakan sekali dalam sehari semalam sebanyak berat cacing tanah yang ditanam. Apabila yang ditanam 1 Kg, maka pakan yang harus diberikan juga harus 1 Kg. Secara umum pakan cacing tanah adalah berupa semua kotoran hewan, kecuali kotoran yang hanya dipakai sebagai media. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan pada cacing tanah, antara lain :
      • pakan yang diberikan harus dijadikan bubuk atau bubur dengan cara diblender.
      • bubur pakan ditaburkan rata di atas media, tetapi tidak menutupi seluruh permukaan media, sekitar 2-3 dari peti wadah tidak ditaburi pakan.
      • pakan ditutup dengan plastik, karung , atau bahan lain yang tidak tembus cahaya.
      • pemberian pakan berikutnya, apabila masih tersisa pakan terdahulu, harus diaduk dan jumlah pakan yang diberikan dikurangi.
      • bubur pakan yang akan diberikan pada cacing tanah mempunyai perbandingan air 1:1.
    2. Penggantian Media
      Media yang sudah menjadi tanah/kascing atau yang telah banyak telur (kokon) harus diganti. Supaya cacing cepat berkembang, maka telur, anak dan induk dipisahkan dan ditumbuhkan pada media baru. Rata rata penggantian media dilakukan dalam jangka waktu 2 Minggu.
    3. Proses Kelahiran
      Bahan untuk media pembuatan sarang adalah: kotoran hewan, dedaunan/Buah-buahan, batang pisang, limbah rumah tangga, limbah pasar, kertas koran/kardus/kayu lapuk/bubur kayu. Bahan yang tersedia terlebih dahulu dipotong sepanjang 2,5 Cm. Berbagai bahan, kecuali kotoran ternak, diaduk dan ditambah air kemudian diaduk kembali. Bahan campuran dan kotaran ternak dijadikan satu dengan persentase perbandingan 70:30 ditambah air secukupnya supaya tetap basah.
4. HAMA DAN PENYAKIT
Keberhasilan beternak cacing tanah tidak terlepas dari pengendalian terhadap hama dan musuh cacing tanah. Beberapa hama dan musuh cacing tanah antara lain: semut, kumbang, burung, kelabang, lipan, lalat, tikus, katak, tupai, ayam, itik, ular, angsa, lintah, kutu dan lain-lain. Musuh yang juga ditakuti adalah semut merah yang memakan pakan cacing tanah yang mengandung karbohidrat dan lemak. Padahal kedua zat ini diperlukan untuk penggemukan cacing tanah. Pencegahan serangan semut merah dilakukan dengan cara disekitar wadah pemeliharaan (dirambang) diberi air cukup.
5. PANEN
Dalam beternak cacing tanah ada dua hasil terpenting (utama) yang dapat diharapkan, yaitu biomas (cacing tanah itu sendiri) dan kascing (bekas cacing). Panen cacing dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya adalah dengan mengunakan alat penerangan seperti lampu petromaks, lampu neon atau bohlam. Cacing tanah sangat sensitif terhadap cahaya sehingga mereka akan berkumpul di bagian atas media. Kemudian kita tinggal memisahkan cacing tanah itu dengan medianya. Ada cara panen yang lebih ekonomis dengan membalikan sarang. Dibalik sarang yang gelap ini cacing biasanya berkumpul dan cacing mudah terkumpul, kemudian sarang dibalik kembali dan pisahkan cacing yang tertinggal. Jika pada saat panen sudah terlihat adanya kokon (kumpulan telur), maka sarang dikembalikan pada wadah semula dan diberi pakan hingga sekitar 30 hari. Dalam jangka waktu itu, telur akan menetas. Dan cacing tanah dapat diambil untuk dipindahkan ke wadah pemeliharaan yang baru dan kascingnya siap di panen.
7. PASCAPANEN : ….
7.1. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
  1. Analisis Usaha Budidaya
    Perkiraan analisis budidaya cacing tanah di Bandung (Jawa Barat) pada ahun 1999 adalah sebagai berikut:
    1. Modal tetap
      1. Sewa tanah seluas 200 m 2 /tahun ————————————————-Rp. 120.000,-
      2. Kandang pelindung:bahan bambu & atap rumbia ———————————–Rp. 150.000,-
      3. Kandang ternak uk 1,5X18 m 2 , Tg 50 Cm :11 bh ——————————–Rp. 600.000,-
      4. Media :
        • Bahan media 6 Ton, @ Rp. 100,00 ——————————————-Rp. 600.000,-
        • Plastik 200 m, @ Rp. 1600,00/m ———————————————Rp. 320.000,-
        • Pelepah Pisang —————————————————————-Rp. 25.000,-
          Jumlah ————————————————————————Rp. 1.815.000,-
    2. Biaya Penyusutan
      1. Tanah ——————————————————————————Rp. 40.000,-
      2. Kandang Pelindung —————————————————————-Rp. 16.667,-
      3. Kandang Ternak ——————————————————————-Rp. 66.667,-
      4. Media
        • Bahan Media ——————————————————————Rp. 300.000,-
        • Plastik ————————————————————————-Rp. 160.000,-
        • Pelepah Pisang —————————————————————–Rp. 6.250,-
          Jumlah ————————————————————————-Rp. 589.584,-
    3. Modal Kerja
      1. Bibit sebanyak 40 Kg, @ Rp. 200.000,00/Kg ————————————–Rp. 8.000.000,-
      2. Pakan dalam bentuk limbah sayur(petsai, Mentimun) 5 Ton @Rp. 500,- ————Rp. 2.500.000,-
      3. Tenaga Kerja 4 orang @ Rp. 100.000,-/bulan ————————————–Rp. 400.000,-
        Jumlah ——————————————————————————Rp. 10.900.000,-
    4. Jumlah modal yang dibutuhkan :
      1. Modal tetap ————————————————————————Rp. 1.815.000,-
      2. Modal kerja ————————————————————————Rp. 10.900.000,-
        Jumlah ——————————————————————————Rp. 12.715.000,-
    5. Produksi/4 bulan
      Selama 4 bulan 1600 Kg, @ Rp.210.000,-/Kg ——————————————-Rp. 336.000.000,-
    6. Biaya produksi/4 bulan
      1. Biaya penyusutan ——————————————————————–Rp. 589.584,-
      2. Modal kerja ————————————————————————-Rp. 10.900.000,-
        Jumlah ——————————————————————————-Rp. 11.489.584,-
    7. Keuntungan/4 bulan
      1. Produksi/4 bulan ———————————————————————Rp. 336.000.000,-
      2. Biaya produksi/4 bulan —————————————————————Rp. 1.489.584,-
        Jumlah ——————————————————————————-Rp. 324.510.416,-
    8. Break Even Point
      1. Keuntungan/4 bulan ——————————————————————-Rp. 324.510.416,-
      2. Biaya Produksi/4 bulan —————————————————————-Rp. 11.489.584,-
        Jumlah ——————————————————————————-Rp. 313.020.822,-
        Keuntungan selama 4 bulan ———————————————————-Rp. 313.020.822,-
        Untung bersih Produksi Rp. 313.020.822,-/120 hr ———————————–Rp. 2.608.506,-
        BEP = Biaya Tetap [ 1 – (Biaya Penyusutan : Keuntungan)]
        = Rp. 1.815.000,00 [ 1 – (Rp. 589.584 : Rp. 324.510.416,-)]
        = Rp. 1.815.000,00 [ 1- 0.0018 ]
        = Rp. 1.815.000,00 X 0.9982
        = Rp. 1.811.733,00Artinya tingkat hasil penjualan sebesar Rp. 1.811.733,00/4 bulan
    9. Tingkat Pengembalian Modal
      Modal Kembali =[Jumlah Modal Yang Diperlukan/(keuntungan + penyusutan)] * 1bulan = 1,733 bulan atau 2 bulan dalam 1 kali Produksi. Jadi tempo yang diperlukan untuk menutupi kembali Investasi adalah dalam 1 kali panen atau 2 bulan.
  2. Gambaran Peluang Agribisnis
    Cacing tanah merupakan komoditi ekspor yang belakangan ini mendapat respon yang besar dari para petani ataupun pengusaha. Hal ini disebabkan karena besarnya permintaan pasar internasional dan masih kurangnya produksi cacing tanah. Budidaya cacing tanah dapat memberikan hasil yang besar dengan penanganan yang baik.
8. DAFTAR PUSTAKA
  1. Asep, Wawancara dengan Peternak Cacing Tanah ( Bandung : Jum’ at, 2 Juli 1999).
  2. Budiarti, Asiani, Palungkun, Roni, Cacing Tanah (Jakarta : Penebar Swadaya, 1992).
  3. Endang, Wawancara dengan Peternak Cacing Tanah (Bogor : Jum’ at, 8 Juli 1999).
  4. Hamzah, Wawancara dengan Peternak Cacing Tanah (Bogor : Jum’ at, 8 Juli 1999).
  5. Hud, Wawancara dengan Peternak Cacing Tanah (Bogor : Jum’ at, 8 Juli 1999).
  6. Rudi, Wawancara dengan Peternak Cacing Tanah ( Bandung : Jum’ at, 2 Juli 1999).
  7. Sayuti, Fahri, Pedoman Praktis Budidaya Cacing Tanah (Bandung : Pusat Latihan Dan Pengembangan, 1999).
  8. Syaeful, Wawancara dengan Peternak Cacing Tanah (Bogor : Jum’ at, 8 Juli 1999).
  9. Waluyo,Neno, Wawancara dengan Mahasiswa Peternak Cacing Tanah (Bogor : Kamis, 24 Juni l999).
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas

Jenis-jenis Cacing


Cacing merupakan salah satu jenis binatang invetebrata yang mudah kita jumpai dalam keseharian kita. Hewan dengan tubuh lunak ini terdiri atas beragam jenis. Kabarnya, ada sekitar 4500 spesies cacing tanah yang tersebar di seluruh dunia. Dari ribuan jenis ini, terdapat cacing yang merugikan dan juga menguntungkan. Berikut kami sajikan jenis-jenis cacing yang boleh jadi cukup familiar di telinga Anda, antara lain:
  1. Cacing tanah. Dari 4500 jenis cacing, sebanyak 2700 adalah cacing tanah. Makhluk hidup yang satu ini dikenal cukup penting bagi manusia. Binatang berlendir ini berperan sebagai kompositor sampah organik, penyubur tanah, bahan obat serta bahan baku pakan ternak yang cukup bergizi. Salah satu jenis cacing tanah yang paling populer adalah Lumbricus rubellus.
  2. Cacing Tambang. Digolongkan sebagai parasit berbahaya dalam tubuh manusia. Cacing ini bisa mengakibatkan berbagai penyakit seperti anemia dan juga kurang gizi. Cacing tambang ini masuk ke dalam filum Nematoda dan terdiri atas dua sepsis yakni Necator americanus dan Ancylostoma duodenale.
  3. Cacing Kremi. Binatang yang satu ini masuk ke dalam filum nematoda dan terdiri atas 3 spesis yakni Enterobius vermicularis, Enterobius anthropopitheci dan Enterobius gregorii. Jenis cacing Enterobius vermicularis-lah yang kemudian menjadi biang penyakit bernama enterobiasis atau oksiuriasis. Cacing kremi merupakan parasit pada tubuh manusia dan melekarkan telurnya pada lipatan kulit anus. Hal ini kemudian yang menyebabkan gatal luar biasa pada wilayah tersebut. Dalam gejala kronis, penderita bisa saja mengalami radang parah pada organ genitalnya.
  4. Cacing Gelang. Tergolong sebagai hewan tanpa tulang belakang atau invertebrate. Ia masuk ke dalam filum Nemarhelminthes Ascaris Lumbricoides. Cacing ini merupakan parasit dan hidup di dalam organ usus manusia.
  5. Cacing Cambuk. Dikenal juga dengan nama Trichuris trichiura. Ia merupakan biang penyakit yang disebut Trikuriasis. Cacing cambuk ini hidup dalam organ usus besar manusia. Infeksi cacing ini bisa menyebabkan seseorang terkena diare juga anemia.
  6. Cacing Jantung. Dikenal juga dengan nama Dirofilaria immitis. Cacing ini hidup sebagai parasit tapi hanya pada hewan. Ia merupakan ancaman yang sangat serius terutama bagi anjing dan kucing. Apabila tidak diperhatikan secara serius, bisa berakibat pada kematian. Cacing ini tersebar melalui perantara nyamuk bernama Anopheles. Ia menyerang bagian arteri pulmonary dan mengakibatkan rusaknya jantung dan paru-paru inangnya.
  7. Cacing Pita. Dikenal juga dengan nama Taenia Solium. Infeksi cacing ini dikenal dengan nama Sistiserkosis. Cacing pita dewasa bisa mencapai panjang 240 sampai 300 cm. Tubuh cacing ini mengandung kurang lebih 1000 proglotid.
  8. Cacing Darah. Dikenal juga dengan nama Schistosoma japonicum. Ia merupakan anggota dari kelompok Trematoda. Menyandang kata “darah” di namanya sebab ia hidup di dalam oembuluh vena pada manusia, sapi, anjing, kucing, biri-biri dan binatang pengerat.

Masih ada banyak jenis-jenis cacing yang tersebar di berbagai wilayah. Namun, daftar cacing yang kami urai untuk Anda merupakan jenis cacing yang familiar dalam kehidupan sehari-hari.

(Sumber : http://tentangcacing.blogspot.com/2013/12/mengurai-jenis-jenis-cacing.html )

CARA PRAKTIS BUDIDAYA CACING LUMBRICUS

Cara Praktis Beternak Cacing Tanah / Lumbricus sp.

            Salah satu kunci sukses dalam memelihara ikan sidat adalah dengan cara beternak cacing sendiri, baik itu cacing sutra untuk pembesaran glass eel maupun beternak cacing tanah. Khusus untuk cacing tanah ini yang paling mudah dan sekaligus mempunyai  harga jual yang cukup tinggi jika dijadikan tepung cacing maupun dijual hidup adalah jenis cacing Lumbricus sp. Seperti kita ketahui bahwa bibit ikan sidat tangkapan alam seringkali kondisinya tidak bagus, dikarenakan banyak sebab. Tentu saja setelah tiba pada pembudidaya dan masuk ke kolam budidaya maka masalah berikutnya adalah tingkat kematian yang cukup tinggi dan sidat tidak mau makan. Nah salah satu solusinya setelah hal-hal lainnya dilakukan adalah melatih ikan sidat mau makan dengan cacing tanah atau dengan cacing lumbricus. Karena itu sangatlah membantu jika kita sudah memelihara cacing sendiri. Dengan memakan cacing maka kondisi ikan sidat akan cepat pulih dan berikutnya mudah untuk dilatih memakan makanan lainnya. Berikut cara praktis memeliharanya.

  1. Media Budidaya Cacing Lumbricus

Persiapan pertama dalam budidaya cacing lumbricus adalah media atau tempat dimana
cacing ini hidup dan berkembang biak. Media untuk perkembangbiakan cacing ini haruslah mempunyai syarat-syarat sbb :
            Syarat Media Cacing.
  • Bahan organik yang remah, artinya media haruslah longgar dan tidak mudah menjadi padat karena dalam masa pemeliharaannya akan ditambahkan pakan cair dan juga media baru secara periodik. Disamping selama hidupnya cacing akan mengeluarkan kotoran berupa butiran kecil-kecil seperti tanah. Kotoran cacing dan pakan cair ini setelah beberapa waktu akan membuat media jadi basah, becek dan menggumpal, sehingga dapat menghambat pertumbuhan cacing dan jumlah telur yang menetas. Oleh karena itulah diperlukan media yang remah, longgar, tidak mudah menggumpal, hangat, meskipun akhirnya media tersebut akan dimakan cacing dan terurai tetapi prosesnya berjalan sangat lama, sekitar 2-3bulan. Disamping itu kelonggaran media ini sebagai sirkulasi udara dan agar cacing bisa bebas bergerak kemana saja. Satu hal lagi keuntungan jika media cacing yang longgar adalah, anakan cacing yang nantinya menetas masih bisa mendapatkan asupan pakan karena pakan yang akan diberikan berupa cair, cairan  pakan ini akan meresap turun sehingga bisa dimakan anakan cacing, tanpa harus naik ke permukaan. Maka nantinya setelah ditambahkan media baru secara periodik, anakan cacing tetap bisa berkembang dan besar di lapisan bawah, sehingga cacing tidak berkumpul dipermukaan edia saja, tetapi juga bisa hidup dan berkembang dilapisan bawah media.
  • Hangat. Salah satu persyaratan agar telur bisa menetas adalah suhu yang hangat dan stabil. Suhu yang hangat dan stabil inilah yang nantinya akan membantu telur cacing yang berada di dalam media bisa matang dan menetas pada waktunya. Jika media dingin maka percuma saja meskipun banyak telurnya karena tidak akan menetas. Kehangatan media terjadi akibat proses fermentasi dan penguraian bahan organik yang  berlangsung terus menerus di dalam tumpukan media. Inilah salah satu fungsi pemberian probiotik pada pakan.
  • Lembab. Persyaratan lain bagi media hidup cacing lumbricus adalah kelembaban media yang terjaga, artinya media dapat menyimpan air dan menjadikannya lembab tetapi karena longgar dan berpori-pori maka kelembabannya bisa berkurang. Kelembaban ini terjadi karena secara rutin diberikan pakan cair, dan kalaupun pakan cair ini berlebihan maka akan cepat meresap ke bawah dan bisa mengalir keluar melalui paralon di bagian dasar yang berfungsi sebagai sirkulasi udara sekaligus sebagai peresapan air. Bahkan sewaktu-waktu media cacing harus juga disiram, untuk mempertahankan kelembabannya.
  • Bahan organik. Tentu saja syarat utama dari media cacing harus terdiri dari bahan organik, inipun dipilih dari bahan yang mudah lapuk dan terurai, karena nantinya media ini setelah dipanen akan berfungsi sebagai media tanam atau kompos.

Agar media yang dipergunakan untuk memelihara cacing bisa maksimal fungsinya, disamping sebagai media tetapi nantinya juga akan hancur setelah lunak dan bisa dimakan cacing, maka kita harus mempersiapkan terlebih dahulu media yang cocok untuk itu. Adapun bahan-bahan yang sebaiknya disiapkan sebagi media cacing adalah, sbb :

Bahan Media Cacing.
•     Tai gergaji atau bekas baglog jamur yang sudah dibuang. Yang paling bagus adalah baglog bekas jamur karena teksturnya sudah lunak dan tidak mengalami pembusukan lagi, sedangkan jika memakai tai gergaji maka pilihlah yang sudah agak lapuk karena jika masih baru teksturnya kasar dan tidak disukai cacing, bisa melukai kulitnya.
•     Pupuk kandang. Pupuk yang dipakai bisa berasal dari sapi, kambing/domba, ayam dll. Pilihlah yang sudah matang agar nantinya media tidak terlalu panas karena proses pembusukan dan kandungan gas amoniaknya yang cukup tinggi, sangat tidak disukai cacing. Cacing akan keluar meninggalkan media jika masih panas dan mengandung amoniak yang tinggi.
•     Batang pisang. Pilihlah batang pisang yang sudah membusuk karena akan menjadi tempat bersarang yang bagus bagi cacing, tetapi jika memang tidak tersedia maka bisa menggunakan batang pisang yang baru. Potong- potonglah batang pisang dan kemudian dijemur ±3hari agar layu.
•     Bahan organik lainnya. Disamping ketiga bahan tadi yang wajib ada, maka bisa ditambahkan bahan-bahan organik lain yang ada di sekitar kita yang sifatnya agak keras atau lama terurai, yakni : berbagai macam daun-daunan; limbah sampah dari pasar; eceng gondok; limbah dari lahan pertanian seperti jerami, rerumputan, tongkol dan batang jagung, bekas tanaman kedelai, kacang hijau, dll. Semua bahan ini hendaknya dirajang dulu untuk memudahkan proses pengomposan dan agar mudah tercampur merata dengan bahan-bahan yang lain.
Itulah beberapa bahan untuk media cacing yang sudah terbukti bagus dipergunakan dan mendukung perkembangbiakan cacing. Untuk komposisinya, bahan-bahan tersebut bisa dicampur bebas. Khusus untuk kotoran sapi dan kotoran ternak lainnya atau bahan lain yang masih dalam proses fermentasi/pembusukan sebaiknya dalam jumlah tidak lebih dari 25%. Misalnya saja ampas tebu; limbah kelapa sawit; onggok ubi kayu, ampas tahu, ampas pabrik kecap, sisa tempe dll (ke-empat bahan terakhir ini lebih bagus untuk pakan cacing). Hindari pemakaian bahan-bahan yang mengandung zat kimia. Setelah semua bahan tersebut terkumpul dan telah dihancurkan atau dirajang dulu, selanjutnya diaduk sampai merata dan kemudian siap difermentasi, dijadikan kompos setengah matang/tidak terlalu lapuk.

Cara Fermentasi Media Cacing :

Siapkanlah semua bahan yang bisa dikumpulkan sesuai dengan yang terdapat di sekitar lokasi masing-masing. Setelah dihancurkan, dicampur merata dan kemudian difermentasi. Caranya adalah sbb :
  • Siapkan terlebih dahulu bahan-bahan untuk dekomposternya, yakni :
- bakteri pengurai... 1liter , sebaiknya memakai hasil ternak sendiri
- molase/tetes.......... 2liter , bisa diganti gula merah/air tebu
- air kelapa.............. 5liter
- air cucian beras..... 2liter
Semua bahan diaduk dan siap dipergunakan. Campuran ini bisa dipergunakan untuk sekitar 1ton bahan organik. Usahakan bahan-bahan tersebut tersedia lengkap agar proses fermentasinya berjalan cepat dan hasilnya bagus. Jika sulit, setidaknya ada biang bakteri dan air cucian beras sebagai pengencer dan makanan bakterinya.
  • Hamparkan campuran bahan-bahan organik tersebut diatas tanah yang teduh, setinggi ± 20-25cm (tidak termasuk batang pisang yang sudah lapuk). Siramkan campuran dekomposter tadi ke atas tumpukan media sambil diaduk.  Setelah itu tutuplah media dengan terpal atau karung beras dan biarkan selama 3-4hari.
  • Pada hari ke-empat tumpukan media dibongkar, diaduk dan dibalik. Biarkan kurang lebih 30menit agar gas-gas yang ada bisa keluar, setelah itu ditutup dan dibiarkan 3hari lagi. Tujuan pembongkaran ini agar suhu di dalam media tidak terlalu panas karena malah bisa menghambat/membunuh bakterinya.
  • Setelah proses fermentasi selesai pada hari ke 7, aduklah kembali dan biarkan diangin anginkan selama 2-3hari, agar sisa gas amoniak yang ada bisa menguap.
  • Setelah media fermentasi ini jadi dan telah dingin bisa dimasukkan ke dalam kolam untuk budidaya cacing. Masukkan setebal 20cm saja bersamaan dengan batang pisang yang sudah lapuk tetapi telah dipotong-potong dulu.
  • Bibit/indukan cacing sudah bisa disebar ke atas media, minimal diperlukan 1kg cacing per m² lahan. Setelah bibit cacing dimasukkan tunggulah beberapa saat, apabila semuanya mau masuk ke dalam media maka berarti media tersebut telah sesuai dengan kondisi yang dikehendaki oleh cacingnya. Apabila cacing tidak mau masuk ke dalam media, berarti ada sesuatu yang tidak beres di dalamnya, bisa karena media terasa kasar bagi kulit cacing atau karena media masih terasa panas dan masih mengandung amoniak hasil pembusukan/proses fermentasi blm sempurna. Bisa juga karena ternyata di dalam media telah dipakai bersarang bagi semut merah. Satu hari kemudian barulah kita beri pakan, karena jika tidak diberi makan maka media ini akan habis dimakan cacing, padahal tujuannya adalah sebagai media saja sedangkan pakan telah disiapkan tersendiri yang mengandung gisi lebih baik.


BERSAMBUNG (lagi)
..Dikutip dari buku Budidaya Sidat Sistem Organik